Minggu, 31 Maret 2013


Mars Geodipa karya Mas Sofyan alias Koben dinyanyikan oleh Defri alias Ginuk

Mars GEODIPA
Geodipa Geodesi Pecinta Alam
Mahasiswa teknik Gadjah mada
Pecinta alam semesta
Melalang buana di mana mana
Di gurun di laut
Di gua di rimba raya
Di gunung di lembah
Mengungkap kebesaran namaMu Tuhan

Rabu, 20 Maret 2013




          APA yang  kalian ketahui  tentang NavDar??Navigasi darat adalah penentuan posisi dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya maupun pada peta. Berkaitan dengan pengertian tersebut, pemahaman tentang kompas dan peta serta cara penggunaannya mutlak harus dikuasai.

          Saat melakukan perjalanan, kita perlu melakukan analisa supaya kita dapat memperkirakan medan yang akan dilalui dengan cara mempelajari peta yang akan dipakai. Sebagai pecinta alam bebas, pengetahuan tentang medan merupakan sebuah modal yang harus dimiliki. Pengetahuan  alam bebas. Selain itu, penguasaan medan  ini juga dapat berguna dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Untuk pelaksanaan tugas SAR, evakuasi, dll. Pengetahuan tentang medan ini antara lain meliputi survival, teknik hidup di alam bebas, dan navigasi darat.  Selain mungkin ada bebarapa materi pendukung seperti perencanaan perjalanan, kesehatan perjalanan, komunikasi lapangan, pengetahuan geologi, pengetahuan lingkungan, dll.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan saat melakukan NavDar
1.   Mengenali Medan
Kemampuan mengenal tanda medan sangatlah mutlak untuk dikuasai jika kita hendak melakukan navigasi darat. Tanda-tanda medan dapat dijadikan acuan untuk penentuan lokasi dan pengenalan medan supaya arah perjalanan tidak melenceng hingga terjadi hal-hal buruk seperti tersesat. Tanda-tanda medan dapat dikenali dari bentang alam yang ada di sekitar, misalnya punggungan, puncak bukit, jalan setapak, jalan raya, sungai, tebing, muara, delta, anak sungai, pemukiman, daerah tertentu, dll.
2. Peta Kompas
 Sebelum melakukan teknik peta kompas perlu dipersiapkan peralatan sebagai pendukung kegiatan, antara lain, peta topografi, kompas bidik, alat tulis (penggaris, busur derajat, pensil, penghapus, dll)
Orientasi Peta / Orientasi Medan Secara istilah dapat dikatakan menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya. Secara praktis menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya.
3.   Resection
 Penentuan posisi kita pada peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan.
4.   Intersection
 Menentukan posisi benda lain di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan
5.   Azimuth-Back Azimuth
 Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat.
6.    Analisis Perjalanan
 Saat melakukan perjalanan, kita perlu melakukan analisa supaya kita dapat memperkirakan medan yang akan dilalui dengan cara mempelajari peta yang akan dipakai.
 Di Geodipa sendiri semua teknik – teknik diatas selalu digunakan pada saat kegiatan di alam. Mempelajari peta bukanlah hal yang sulit, dikarenakan dasar keilmuan kita adalah Geodesi (ilmu pemetaan). Namun pengetahuan tentang Peta saja tidak cukup untuk dapat menguasai atau melakukan Navigasi darat dialam bebas. Di GEODIPA kegiatan NavDar menjadi rutinitas yang dilaksanakan setiap tahunnya kepada anggota muda. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan NavDar di alam bebas sebenarnya.


Senin, 12 November 2012

Geodipa adalah suatu organisasi atau wadah bagi para penggiat dan pecinta alam mahasiswa Teknik Geodesi UGM. Berdiri 25 Mei 1974

Seperti halnya alam, kehidupan ini tidak akan pernah usai sebelum dijelajahi sampai akhirnya menemukan hal-hal yang menakjubkan dan  mengejutkan. Seperti halnya  Gunung yang harus didaki, gua yang harus ditelusuri, sungai yang  harus diselami dan dinding batu  yang harus dipanjat untuk mencari kesenangan baru, pengalaman baru dan impian yang baru.

 

Video Geodipa : By Wafa GCK-174

GEODIPA (Geodesi Pecinta Alam) merupakan organisasi pecinta alam di Teknik Geodesi UGM. Lahir pada tanggal 25 Mei 1974 yang pada awalnya merupakan tempat menampung mahasiswa yang hobi dan belajar berenang, dimana pada saat itu banyak mahasiswa Geodesi yang diturunkan sebagai surveyor di luar Pulau Jawa sehingga harus bisa berenang karena banyak sekali medan yang berawa, sungai, bahkan lumpur hidup. Baru pada tahun 1996, Geodipa menyusun AD/ART dan sistem penomoran anggota dan pada tahun 1998 diadakan Diklatsar Geodipa sebagai media penerimaan anggota baru.

Geodipa mempunyai 4 divisi operasional, yakni Divisi Rimba Gunung, Divisi Air, Divisi Gua, dan Divisi Panjat. Masing-masing divisi memiliki program kegiatan. Divisi Rimba Gunung memiliki program pendakian gunung seperti Gn. Merbabu, Gn. Lawu, Gn. Gede Pangrango, Gn. Argopuro, dsb. Divisi Air memiliki program renang rutin dan pengarungan di sungai, sungai Elo misalnya. Divisi Gua, memiliki program penelusuran Gua Gilap, Gua Cerme, Gua Jomblang, dsb. Divisi Panjat memiliki program panjat tebing, di Siung, Parangndok, dsb. Selain itu, Geodipa juga memiliki program yang bersifat umum, seperti Fun Rafting, Caving Ceria, Pendakian Massal, Buka Bersama, dan lain sebagainya.

Ada 3 hal yang membuat Geodipa tetap eksis, yakni hobi, organisasi, dan ilmu pengetahuan. Geodipa terbentuk oleh hobi yaitu melakukan kegiatan di alam terbuka, karena kepuasan yang tak ternilai jika sebuah petualangan dilakukan dengan membawa harapan untuk tetap melestarikan alam dan mengagumi betapa besar kekuasaan Tuhan yang menciptakan alam seisinya. Kedua, organisasi, karena komunitas akan lebih teratur dan diakui ketika telah menjadi sebuah organisasi. Ketiga, ilmu pengetahuan, hal yang sangat penting bagi Geodipa dalam mengaplikasikan ilmu yang didapat dari kegiatan akademis ke dalam kegiatan di alam terbuka, dan menyikapi masalahh akademis dengan belajar dari alam. Atau istilahnya dikenal dengan 
Menggeodesikan Geodipa dan menggeodipakan Geodesi ..

Oleh : Wafa Ginanjar Putra GCK-174