Pemandangan sore hari di Pos 7 Gunung Slamet bersama anggota penuh Geodipa Surya Cakrawala
Bersih Gunung Geodipa di Gunung Merbabu
Taukah Anda jika kondisi Gunung sekarang sugguh memprihatinkan. Ayyyyoooo galakan BERSIH GUNUNG dimanapun Anda berada!!!
Tawa Ceria
Selama perjalanan pendakian tidak ada yang namanya kesedihan, walupun seberapa berat perjalanan yang kita lalui, seberapa berat tas yang kita bawa tetap saja selalu ada tawa ceria diantara kami
Sang saka dwi warna di Puncak Mahameru
Paling membanggakan pada wajib gunung kemarin bukanlah puncak yang dapat kita raih tetapi kerja sama yang baik diantara kami yang mampu mengantarkan kami sampai puncak Mahameru
Ulang tahun Geodipa yang ke 39
Pada tahun 2013 ini Geodipa berusia 39, dengan bertambahnya usia ini harapanya Geodipa bisa menjadi lebih baik lagi dalam bidang kepencintaalaman
Mars Geodipa karya Mas Sofyan alias Koben dinyanyikan oleh Defri alias Ginuk
Mars GEODIPA
Geodipa Geodesi Pecinta Alam Mahasiswa teknik Gadjah mada Pecinta alam semesta Melalang buana di mana mana Di gurun di laut Di gua di rimba raya Di gunung di lembah Mengungkap kebesaran namaMu Tuhan
APA yang kalian ketahui tentang
NavDar??Navigasi darat adalah penentuan posisi dan arah perjalanan baik di
medan sebenarnya maupun pada peta. Berkaitan dengan pengertian tersebut,
pemahaman tentang kompas dan peta serta cara penggunaannya mutlak harus
dikuasai.
Saat melakukan
perjalanan, kita perlu melakukan analisa supaya kita dapat memperkirakan medan
yang akan dilalui dengan cara mempelajari peta yang akan dipakai. Sebagai
pecinta alam bebas, pengetahuan tentang medan merupakan sebuah modal yang harus
dimiliki. Pengetahuan alam bebas. Selain itu, penguasaan medan ini
juga dapat berguna dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Untuk pelaksanaan tugas
SAR, evakuasi, dll. Pengetahuan tentang medan ini antara lain meliputi
survival, teknik hidup di alam bebas, dan navigasi darat. Selain mungkin
ada bebarapa materi pendukung seperti perencanaan perjalanan, kesehatan
perjalanan, komunikasi lapangan, pengetahuan geologi, pengetahuan lingkungan,
dll.
Ada beberapa teknik yang dapat digunakan saat
melakukan NavDar
1.Mengenali Medan
Kemampuan mengenal
tanda medan sangatlah mutlak untuk dikuasai jika kita hendak melakukan navigasi
darat. Tanda-tanda medan dapat dijadikan acuan untuk penentuan lokasi dan
pengenalan medan supaya arah perjalanan tidak melenceng hingga terjadi hal-hal
buruk seperti tersesat. Tanda-tanda medan dapat dikenali dari bentang alam yang
ada di sekitar, misalnya punggungan, puncak bukit, jalan setapak, jalan raya,
sungai, tebing, muara, delta, anak sungai, pemukiman, daerah tertentu, dll.
2.Peta Kompas
Sebelum melakukan
teknik peta kompas perlu dipersiapkan peralatan sebagai pendukung kegiatan,
antara lain, peta topografi, kompas bidik, alat tulis (penggaris, busur
derajat, pensil, penghapus, dll)
Orientasi Peta / Orientasi Medan Secara istilah dapat dikatakan menyamakan
kedudukan peta dengan medan sebenarnya. Secara praktis menyamakan utara peta
dengan utara sebenarnya.
3.Resection
Penentuan posisi
kita pada peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan.
4.Intersection
Menentukan posisi
benda lain di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan
5.Azimuth-Back
Azimuth
Azimuth adalah
sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat.
6.Analisis Perjalanan
Saat melakukan
perjalanan, kita perlu melakukan analisa supaya kita dapat memperkirakan medan
yang akan dilalui dengan cara mempelajari peta yang akan dipakai.
Di Geodipa sendiri
semua teknik – teknik diatas selalu digunakan pada saat kegiatan di alam.
Mempelajari peta bukanlah hal yang sulit, dikarenakan dasar keilmuan kita
adalah Geodesi (ilmu pemetaan). Namun pengetahuan tentang Peta saja tidak cukup
untuk dapat menguasai atau melakukan Navigasi darat dialam bebas. Di GEODIPA
kegiatan NavDar menjadi rutinitas yang dilaksanakan setiap tahunnya kepada
anggota muda. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan
NavDar di alam bebas sebenarnya.
Geodipa adalah suatu organisasi atau wadah bagi para penggiat dan pecinta alam mahasiswa Teknik Geodesi UGM. Berdiri 25 Mei 1974
Seperti halnya alam, kehidupan ini tidak akan pernah usai sebelum dijelajahi sampai akhirnya menemukan hal-hal yang menakjubkan dan mengejutkan. Seperti halnya Gunung yang harus didaki, gua yang harus ditelusuri, sungai yang harus diselami dan dinding batu yang harus dipanjat untuk mencari kesenangan baru, pengalaman baru dan impian yang baru.
Video Geodipa : By Wafa GCK-174
GEODIPA (Geodesi Pecinta Alam) merupakan organisasi pecinta alam di Teknik Geodesi UGM. Lahir pada tanggal 25 Mei 1974 yang pada awalnya merupakan tempat menampung mahasiswa yang hobi dan belajar berenang, dimana pada saat itu banyak mahasiswa Geodesi yang diturunkan sebagai surveyor di luar Pulau Jawa sehingga harus bisa berenang karena banyak sekali medan yang berawa, sungai, bahkan lumpur hidup. Baru pada tahun 1996, Geodipa menyusun AD/ART dan sistem penomoran anggota dan pada tahun 1998 diadakan Diklatsar Geodipa sebagai media penerimaan anggota baru.
Geodipa mempunyai 4 divisi operasional, yakni Divisi Rimba Gunung, Divisi Air, Divisi Gua, dan Divisi Panjat. Masing-masing divisi memiliki program kegiatan. Divisi Rimba Gunung memiliki program pendakian gunung seperti Gn. Merbabu, Gn. Lawu, Gn. Gede Pangrango, Gn. Argopuro, dsb. Divisi Air memiliki program renang rutin dan pengarungan di sungai, sungai Elo misalnya. Divisi Gua, memiliki program penelusuran Gua Gilap, Gua Cerme, Gua Jomblang, dsb. Divisi Panjat memiliki program panjat tebing, di Siung, Parangndok, dsb. Selain itu, Geodipa juga memiliki program yang bersifat umum, seperti Fun Rafting, Caving Ceria, Pendakian Massal, Buka Bersama, dan lain sebagainya.
Ada 3 hal yang membuat Geodipa tetap eksis, yakni hobi, organisasi, dan ilmu pengetahuan. Geodipa terbentuk oleh hobi yaitu melakukan kegiatan di alam terbuka, karena kepuasan yang tak ternilai jika sebuah petualangan dilakukan dengan membawa harapan untuk tetap melestarikan alam dan mengagumi betapa besar kekuasaan Tuhan yang menciptakan alam seisinya. Kedua, organisasi, karena komunitas akan lebih teratur dan diakui ketika telah menjadi sebuah organisasi. Ketiga, ilmu pengetahuan, hal yang sangat penting bagi Geodipa dalam mengaplikasikan ilmu yang didapat dari kegiatan akademis ke dalam kegiatan di alam terbuka, dan menyikapi masalahh akademis dengan belajar dari alam. Atau istilahnya dikenal dengan
Menggeodesikan Geodipa dan menggeodipakan Geodesi ..